Buku ajar cetak sudah lama menjadi teman setia dosen dan mahasiswa. Bentuknya sederhana, mudah dibawa, dan akrab bagi siapa saja. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan kebiasaan belajar generasi digital, buku ajar cetak saja sering dianggap kurang praktis. Mahasiswa sekarang lebih sering membuka ponsel atau laptop ketimbang membawa setumpuk buku ke kelas. Karena itu, banyak dosen dan penulis mulai berpikir: bagaimana kalau buku ajar cetak yang sudah ada diadaptasi menjadi versi digital yang lebih interaktif?
Mengadaptasi buku ajar cetak ke versi digital interaktif bukan berarti sekadar memindahkan teks ke file PDF. Kalau hanya begitu, mahasiswa akan tetap merasa bosan, karena mereka hanya membaca halaman digital yang sama dengan versi cetaknya. Versi digital interaktif menuntut kreativitas lebih: bagaimana membuat mahasiswa bisa klik, scroll, menonton video, mengerjakan kuis, bahkan berdiskusi langsung dari dalam modul.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami karakteristik buku cetak yang sudah ada. Buku ajar cetak biasanya kaya teori, uraian panjang, dan latihan soal di bagian akhir bab. Nah, ketika diubah ke versi digital, penulis harus memikirkan bagaimana materi itu bisa dipotong menjadi bagian kecil yang lebih mudah dipelajari. Misalnya, satu bab panjang bisa dipecah menjadi beberapa unit atau topik singkat. Dengan begitu, mahasiswa tidak kewalahan membaca terlalu banyak sekaligus, dan mereka bisa memilih topik sesuai kebutuhan.
Langkah kedua adalah menambahkan elemen interaktif. Kalau di buku cetak ada latihan soal pilihan ganda, di versi digital soal itu bisa langsung diberi umpan balik otomatis. Jadi, ketika mahasiswa memilih jawaban, sistem langsung memberi tahu apakah jawabannya benar atau salah, lengkap dengan penjelasan singkat. Ini jauh lebih efektif karena mahasiswa bisa belajar dari kesalahan tanpa harus menunggu koreksi dosen.
Selain kuis, elemen interaktif juga bisa berupa video singkat, audio penjelasan, atau animasi sederhana. Misalnya, dalam buku ajar biologi, alih-alih hanya menampilkan gambar sel tumbuhan, versi digital bisa menyertakan video animasi yang menunjukkan bagaimana proses fotosintesis berlangsung. Hal ini membantu mahasiswa dengan gaya belajar visual atau auditori agar lebih mudah memahami materi.
Langkah ketiga adalah menambahkan tautan dan sumber eksternal. Buku cetak biasanya terbatas pada referensi yang tercetak. Dalam versi digital, penulis bisa menambahkan link ke artikel jurnal terbaru, video TED Talk, atau berita terkini yang relevan dengan materi. Mahasiswa jadi terdorong untuk mengeksplorasi lebih jauh, dan buku ajar digital pun terasa lebih “hidup” karena terus bisa di-update.
Hal lain yang penting adalah memperhatikan desain tampilan. Buku ajar digital yang baik harus nyaman dibaca di layar laptop maupun ponsel. Hindari paragraf terlalu panjang, gunakan font yang jelas, tambahkan infografis, dan beri warna pada bagian penting. Tampilan yang menarik akan membuat mahasiswa lebih betah belajar. Ingat, mahasiswa generasi sekarang terbiasa dengan aplikasi yang penuh visual dan interaktif, jadi buku ajar digital harus mengikuti gaya itu agar tidak kalah saing.
Selain itu, buku ajar digital interaktif sebaiknya memberi ruang bagi mahasiswa untuk refleksi diri. Misalnya, di akhir topik ada pertanyaan terbuka yang bisa mereka jawab langsung di kolom komentar modul. Ada juga fitur forum diskusi di mana mahasiswa bisa menuliskan pendapatnya dan menanggapi teman-teman sekelas. Dengan begitu, buku ajar digital tidak hanya jadi bahan bacaan, tetapi juga ruang kolaborasi.
Mengadaptasi buku ajar cetak ke digital memang membutuhkan usaha ekstra. Tidak semua penulis terbiasa dengan teknologi atau desain digital. Namun, sekarang banyak platform yang bisa membantu, misalnya Moodle, Google Classroom, Edmodo, atau aplikasi interaktif seperti H5P dan Genially. Platform ini sudah menyediakan template untuk kuis, video, infografis, hingga permainan edukatif. Dosen tinggal memasukkan materi yang sudah ada dari buku cetak, lalu menyesuaikan dengan fitur yang tersedia.
Tentu, ada tantangan yang perlu diperhatikan. Pertama, soal akses internet. Tidak semua mahasiswa punya koneksi stabil, jadi buku ajar digital sebaiknya bisa diakses secara offline juga. Kedua, soal konsistensi. Penulis harus memastikan konten tetap akurat, tidak hanya menarik secara visual. Ketiga, soal adaptasi mahasiswa sendiri. Ada sebagian mahasiswa yang lebih nyaman dengan buku cetak. Karena itu, penyusunan buku ajar digital sebaiknya tetap mempertahankan alur logis yang sama dengan buku cetak agar mudah diikuti.
Meski ada tantangan, manfaatnya sangat besar. Buku ajar digital interaktif membuat mahasiswa lebih aktif, memberi umpan balik instan, dan menghubungkan teori dengan dunia nyata melalui media digital. Dosen pun terbantu, karena bisa memantau perkembangan mahasiswa langsung dari sistem.
Pada akhirnya, mengadaptasi buku ajar cetak ke versi digital interaktif adalah langkah alami di era pendidikan digital. Ini bukan sekadar soal mengikuti tren, melainkan upaya nyata agar pembelajaran lebih efektif, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa zaman sekarang. Dengan buku ajar interaktif, belajar tidak lagi sekadar membaca halaman demi halaman, tetapi sebuah pengalaman yang dinamis, menyenangkan, dan penuh keterlibatan.
