Di era serba digital seperti sekarang, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mampu membaca dan memahami teks, tetapi juga untuk bisa menavigasi informasi dari berbagai sumber digital dengan kritis. Kemampuan ini dikenal sebagai literasi digital — kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi dengan bijak di dunia digital. Dalam konteks pendidikan tinggi, literasi digital menjadi fondasi penting agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembelajar yang aktif, mandiri, dan bertanggung jawab di dunia maya.
Buku ajar, yang selama ini menjadi panduan utama dalam perkuliahan, memiliki peran besar dalam membangun literasi digital mahasiswa. Dosen sebagai penulis buku ajar tidak cukup hanya menyajikan teori dan konsep. Mereka juga perlu menanamkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital, melatih kemampuan analisis data daring, serta menumbuhkan etika dalam berinteraksi dan berbagi pengetahuan di ruang digital. Dengan kata lain, buku ajar masa kini tidak boleh berhenti di “tinta dan kertas,” tetapi harus menjadi jembatan menuju ekosistem belajar digital yang lebih luas.
Langkah pertama dalam mendesain buku ajar yang mendukung literasi digital adalah menyisipkan elemen interaktif dan kontekstual berbasis teknologi. Misalnya, penulis dapat menambahkan QR code atau tautan ke sumber digital seperti artikel jurnal, video, infografis, atau simulasi daring yang relevan. Mahasiswa dapat memindai kode tersebut dan langsung mengakses sumber tambahan untuk memperluas pemahamannya. Cara ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih kemampuan mahasiswa dalam mengevaluasi berbagai jenis sumber digital. Mereka belajar membedakan mana informasi yang kredibel dan mana yang tidak.
Selain itu, buku ajar yang baik perlu mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya digital. Misalnya, setelah mempelajari bab tertentu, mahasiswa bisa diminta untuk membuat presentasi berbasis video, menulis opini di blog akademik, atau menyusun infografis yang merangkum pemahaman mereka. Aktivitas seperti ini bukan hanya memperkuat pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan teknologis dan komunikasi digital mereka. Penulis buku dapat menyertakan panduan langkah demi langkah agar mahasiswa tidak hanya belajar konten, tetapi juga proses pembuatan karya digital secara etis dan efektif.
Dalam konteks literasi digital, hal penting lainnya adalah menumbuhkan kesadaran terhadap etika digital. Buku ajar bisa menjadi media yang strategis untuk menanamkan pemahaman bahwa dunia digital memiliki aturan dan tanggung jawab moral yang sama pentingnya dengan dunia nyata. Misalnya, ketika membahas sumber referensi, penulis dapat menjelaskan pentingnya mencantumkan sitasi digital, menghargai hak cipta, dan menghindari plagiarisme daring. Mahasiswa perlu disadarkan bahwa berbagi informasi di internet harus disertai dengan rasa tanggung jawab sosial dan akademik.
Selain isi dan aktivitas, gaya penulisan juga berpengaruh besar terhadap literasi digital. Buku ajar yang mendukung literasi digital sebaiknya ditulis dengan gaya komunikatif dan dialogis — seolah-olah penulis sedang berbicara dengan mahasiswa. Kalimat yang bersahabat namun tetap akademis akan membantu mahasiswa merasa dekat dengan materi. Gaya ini bisa dipadukan dengan contoh-contoh aktual yang diambil dari dunia digital, seperti tren media sosial, kasus hoax, data privacy, atau penggunaan AI dalam pendidikan. Dengan begitu, mahasiswa belajar memahami teknologi bukan sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dikelola secara bijak.
Penulis buku juga bisa menambahkan ruang refleksi digital di setiap akhir bab. Misalnya, setelah membaca materi tentang komunikasi daring, mahasiswa diajak merenung dengan pertanyaan seperti: “Apakah Anda termasuk orang yang kritis terhadap berita di media sosial?” atau “Bagaimana Anda menjaga etika saat berdiskusi di ruang digital?” Refleksi seperti ini melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan sadar diri dalam menggunakan teknologi. Literasi digital sejati lahir dari kebiasaan berpikir reflektif terhadap informasi dan tindakan digital yang dilakukan setiap hari.
Desain visual juga berperan penting dalam mendukung literasi digital. Buku ajar yang baik harus tampil menarik, rapi, dan mudah dibaca di berbagai format — baik cetak maupun digital. Penulis dapat memanfaatkan infografis, diagram interaktif, dan tata letak yang ramah layar gawai. Bahkan, versi digital buku ajar bisa dilengkapi fitur interaktif seperti komentar langsung, embedded video, atau kuis singkat. Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga untuk membiasakan mahasiswa membaca dalam lingkungan digital yang dinamis.
Pada akhirnya, mendesain buku ajar yang mendukung literasi digital bukan berarti mengubah buku menjadi sekadar “buku elektronik.” Inti utamanya terletak pada bagaimana buku itu membantu mahasiswa berpikir kritis, beretika, dan produktif di dunia digital. Buku ajar semacam ini menjadi sarana penting bagi dosen untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan era informasi, di mana kemampuan menemukan dan mengolah informasi sama pentingnya dengan menguasai teori.
Dengan integrasi yang baik antara konten, aktivitas, teknologi, dan nilai-nilai etis, buku ajar dapat menjadi lebih dari sekadar bahan ajar — ia bisa menjadi alat pembentuk karakter digital mahasiswa. Buku seperti ini menuntun mahasiswa untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cerdas secara digital: mampu berpikir kritis, bertanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan teknologi untuk belajar dan berkontribusi bagi masyarakat.



