Home Penulisan Buku Ajar Bagaimana Menentukan Target Pembaca dan Gaya Bahasa Akademik yang Tepat

Bagaimana Menentukan Target Pembaca dan Gaya Bahasa Akademik yang Tepat

0

Menulis buku ajar atau karya ilmiah kadang terasa seperti berjalan di dua dunia: satu dunia menuntut ketepatan akademik, sementara dunia lainnya menuntut keterbacaan. Banyak penulis terjebak di antara keduanya — terlalu ilmiah sampai susah dipahami, atau terlalu santai sampai kehilangan bobot akademiknya. Padahal, kunci dari tulisan yang efektif itu sederhana: kenali siapa pembacanya dan sesuaikan gaya bahasanya.

Bayangkan kamu sedang berbicara. Saat berbicara dengan teman, tentu gayanya santai. Tapi kalau sedang mempresentasikan hasil penelitian di depan dekan, kamu pasti memilih kata yang lebih formal dan berhati-hati. Nah, menulis juga begitu. Gaya bahasa harus disesuaikan dengan siapa yang akan membaca tulisanmu.

Menentukan Target Pembaca

Langkah pertama dalam menulis adalah memahami siapa yang akan membaca karya kita. Dalam konteks buku ajar, pembaca utama biasanya mahasiswa. Tapi jangan berhenti di situ. Mahasiswa jurusan apa? Semester berapa? Seberapa dalam mereka sudah memahami topik itu? Apakah mereka generasi yang lebih nyaman dengan teks panjang, atau justru lebih suka visual dan ilustrasi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat penting karena akan memengaruhi seluruh cara penulisan.

Misalnya, kalau kamu menulis buku ajar untuk mahasiswa tingkat awal, jangan langsung menyodorkan teori-teori rumit dengan istilah asing. Lebih baik mulai dengan konteks sederhana, seperti contoh nyata, analogi sehari-hari, atau ilustrasi ringan. Tapi kalau kamu menulis untuk mahasiswa tingkat akhir atau program magister, kamu bisa lebih eksploratif — memasukkan perspektif teori, hasil penelitian terbaru, dan analisis yang lebih kritis.

Target pembaca juga menentukan sejauh mana kedalaman bahasan. Untuk mahasiswa baru, buku ajar berfungsi sebagai pintu masuk ke bidang ilmu tertentu, jadi bahasanya harus ramah dan tidak terlalu teknis. Sementara untuk pembaca tingkat lanjut, buku ajar bisa berfungsi sebagai jembatan menuju riset, jadi bahasanya boleh lebih kompleks dan argumentatif.

Menentukan Gaya Bahasa Akademik yang Tepat

Setelah tahu siapa pembacanya, langkah berikutnya adalah menentukan gaya bahasa yang paling pas. Dalam dunia akademik, gaya bahasa itu tidak harus selalu kaku. Justru, tulisan yang baik adalah yang bisa menyampaikan konsep sulit dengan bahasa yang tetap enak dibaca.

Secara umum, bahasa akademik yang efektif punya tiga ciri utama: jelas, padat, dan objektif.

  • Jelas berarti setiap kalimat punya makna yang mudah dipahami. Hindari kalimat berbelit-belit yang panjangnya seperti paragraf mini. Kalau satu kalimat sudah lebih dari 25 kata, mungkin waktunya dipenggal jadi dua.
  • Padat berarti tidak berputar-putar. Sampaikan ide utama dulu, baru kembangkan dengan bukti atau contoh.
  • Objektif berarti hindari bahasa emosional seperti “sangat bagus,” “buruk sekali,” atau “menarik banget.” Gantilah dengan penjelasan berbasis fakta, misalnya “Model ini efektif karena didukung oleh data empiris dari penelitian sebelumnya.”

Namun, jangan salah paham. Objektif bukan berarti membosankan. Kamu tetap bisa menulis dengan gaya yang mengalir, hangat, dan komunikatif — tanpa kehilangan rasa ilmiah. Misalnya, daripada menulis “Pendidikan karakter adalah proses internalisasi nilai-nilai moral,” kamu bisa menulis “Pendidikan karakter membantu mahasiswa memahami dan menerapkan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.” Versi kedua tetap akademik, tapi terasa lebih dekat dan manusiawi.

Selain itu, perhatikan pilihan diksi (kata-kata yang digunakan). Dalam tulisan akademik, hindari bahasa gaul, hiperbola, atau metafora berlebihan. Tapi jangan pula menjejali paragraf dengan istilah asing yang tidak dijelaskan. Jika kamu harus menggunakan istilah seperti construct validity atau meta-analysis, tambahkan penjelasan singkat di dalam teks atau catatan kaki. Tujuannya agar pembaca tidak merasa terlempar dari konteks.

Menjaga Keseimbangan antara Formal dan Aksesibel

Menulis buku ajar sebenarnya soal keseimbangan antara akademis dan aksesibel. Buku ajar yang terlalu formal sering terasa jauh dan membosankan, sementara yang terlalu santai bisa kehilangan kredibilitas. Cobalah pikirkan buku ajarmu sebagai “percakapan akademik.” Kamu tidak sedang menggurui, tapi juga tidak sedang bercanda. Kamu sedang berbagi pengetahuan dengan cara yang ramah, runtut, dan logis.

Gunakan tone (nada tulisan) yang bersahabat. Misalnya, awali bab dengan pertanyaan reflektif seperti, “Pernahkah kamu bertanya mengapa perilaku manusia sulit diprediksi?” Kalimat seperti ini langsung mengundang pembaca untuk berpikir, tanpa kehilangan nuansa ilmiahnya.

Terakhir, jangan lupa pentingnya konsistensi gaya. Kalau di awal kamu memilih nada semi-formal, pertahankan itu hingga akhir. Hindari campur aduk antara kalimat formal (“berdasarkan hasil penelitian”) dan gaya percakapan ekstrem (“nah, ini dia yang sering bikin bingung!”). Konsistensi membuat buku terasa profesional dan mudah diikuti.

Menentukan target pembaca dan gaya bahasa bukan sekadar tahap awal dalam menulis — tapi fondasi utama yang menentukan apakah buku ajarmu akan dibaca dengan antusias atau sekadar “dibuka saat ujian.” Buku ajar modern sebaiknya mampu menyeimbangkan dua hal: ketelitian akademik dan kehangatan komunikasi.

Ketika kamu tahu siapa pembacanya, kamu akan tahu cara terbaik untuk berbicara dengan mereka. Dan ketika gaya bahasamu tepat, tulisanmu tidak hanya informatif, tapi juga menginspirasi. Karena pada akhirnya, buku ajar bukan hanya kumpulan teori — tapi juga jembatan antara pengetahuan dan pemahaman.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version