Tuesday, January 13, 2026
Google search engine
HomePenulisan Buku AjarMenyusun Learning Outcomes yang Dapat Diukur dan Dicapai

Menyusun Learning Outcomes yang Dapat Diukur dan Dicapai

Salah satu hal yang paling sering bikin dosen atau guru bingung saat menyusun rencana pembelajaran adalah bagian learning outcomes — atau kalau dalam bahasa Indonesia disebut “capaian pembelajaran.” Sekilas, memang kelihatannya mudah. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, banyak yang menulisnya terlalu abstrak, sulit diukur, atau tidak realistis untuk dicapai mahasiswa. Padahal, learning outcomes inilah yang menjadi “kompas” dari seluruh kegiatan belajar. Kalau arah kompasnya tidak jelas, perjalanan belajar pun bisa tersesat.

Secara sederhana, learning outcomes adalah pernyataan tentang apa yang diharapkan mahasiswa mampu lakukan setelah mengikuti pembelajaran. Bukan sekadar apa yang diajarkan dosen, tapi apa yang benar-benar dikuasai mahasiswa di akhir proses. Jadi fokusnya bukan pada “mengajar,” tapi pada “hasil belajar.” Misalnya, alih-alih menulis “mahasiswa memahami teori pemasaran,” lebih baik tuliskan “mahasiswa mampu menganalisis strategi pemasaran pada produk lokal.” Kalimat kedua lebih konkret dan bisa diuji.

Nah, di sinilah banyak yang keliru. Banyak learning outcomes terdengar bagus di atas kertas, tapi tidak bisa dibuktikan dalam praktik. Misalnya, “mahasiswa memiliki jiwa kepemimpinan.” Kalimat ini terlalu umum. Kepemimpinan seperti apa? Bagaimana mengukurnya? Apakah cukup dengan memberi nilai A pada tugas presentasi? Supaya learning outcomes bisa diukur dan dicapai, rumusnya sederhana: spesifik, terukur, realistis, dan relevan dengan konteks.

Langkah pertama dalam menyusun learning outcomes adalah menggunakan kata kerja yang dapat diamati dan diukur. Inilah alasan mengapa kita sering menggunakan Bloom’s Taxonomy — kerangka yang membantu memilih kata kerja sesuai tingkat kemampuan. Misalnya:

1.Untuk level dasar (pengetahuan), gunakan kata seperti menyebutkan, mengidentifikasi, menjelaskan.

2.Untuk level analisis, gunakan menganalisis, membandingkan, menghubungkan.

3.Untuk level sintesis dan evaluasi, gunakan merancang, menilai, menciptakan.

Baca juga!  Mendesain Buku Ajar untuk Mahasiswa dengan Gaya Belajar Visual

Kata kerja seperti “memahami” atau “mengetahui” sebaiknya dihindari karena terlalu kabur. Tidak ada alat ukur pasti untuk memastikan seseorang “memahami,” tapi ada untuk “menjelaskan” atau “menganalisis.”

Langkah kedua, pastikan hasil belajar realistis dan sesuai waktu. Kalau satu mata kuliah hanya tiga SKS, jangan berharap mahasiswa bisa “mengembangkan sistem aplikasi berbasis AI dari nol” — itu terlalu ambisius. Lebih baik tulis “mahasiswa mampu membuat rancangan awal aplikasi berbasis AI dengan menggunakan tool open source.” Artinya, learning outcome harus selaras dengan durasi, sumber daya, dan pengalaman belajar yang tersedia.

Langkah ketiga, hubungkan learning outcomes dengan kegiatan dan penilaian. Banyak dosen menulis hasil belajar yang tidak pernah diukur dalam ujian atau tugas. Misalnya, learning outcome-nya “mahasiswa mampu berkomunikasi efektif,” tapi seluruh penilaian hanya berupa ujian tertulis. Padahal kemampuan komunikasi bisa diukur lewat presentasi, diskusi kelompok, atau refleksi diri. Intinya, kalau ingin hasil belajar tercapai, maka harus ada kegiatan belajar dan asesmen yang benar-benar menguji kemampuan tersebut.

Langkah keempat, tulis learning outcomes dengan bahasa yang mudah dipahami mahasiswa. Hindari istilah teknis yang terlalu akademik. Coba uji sendiri: kalau mahasiswa membaca kalimat itu, apakah mereka tahu persis apa yang dimaksud dan apa yang harus mereka capai? Kalau jawabannya “tidak,” maka kalimat itu perlu disederhanakan. Learning outcomes seharusnya menjadi target bersama antara dosen dan mahasiswa, bukan hanya dokumen administratif untuk akreditasi.

Langkah terakhir, revisi secara berkala. Dunia terus berubah, begitu juga kompetensi yang dibutuhkan. Learning outcomes lima tahun lalu mungkin sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri sekarang. Misalnya, dulu “menguasai Microsoft Word” mungkin cukup, tapi sekarang mahasiswa perlu “menggunakan AI tools untuk menyusun laporan secara efisien.”

Baca juga!  Mendesain Buku Ajar untuk Service Learning

Buku ajar atau mata kuliah yang baik selalu fleksibel, siap menyesuaikan diri dengan perkembangan baru. Jadi, jangan takut memperbarui hasil belajar ketika lingkungan dan teknologi berubah. Tujuan akhirnya tetap sama: memastikan mahasiswa punya keterampilan yang relevan dan bisa diterapkan di dunia nyata.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Iklan -
Google search engine

Most Popular

Komentar