Buat banyak mahasiswa atau peneliti, bagian studi pustaka sering jadi momok. Rasanya ribet, panjang, dan kadang dianggap sekadar formalitas belaka. Padahal, studi pustaka sebenarnya adalah fondasi dari sebuah penelitian. Lewat studi pustaka, kita menunjukkan bahwa kita tahu apa yang sudah diteliti orang lain, di mana posisi riset kita, dan bagaimana penelitian kita bisa memberikan kontribusi baru. Kalau dilakukan dengan benar, studi pustaka bukan cuma daftar kutipan, tapi juga jadi peta yang menuntun arah penelitian.
Pertama-tama, pahami dulu tujuan studi pustaka. Bukan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin referensi, tapi untuk memetakan pengetahuan yang sudah ada. Dengan membaca literatur, kita bisa tahu: siapa saja yang sudah meneliti topik ini, teori apa yang dipakai, metode apa yang digunakan, dan hasil apa yang ditemukan. Dari situ, kita bisa melihat celah—apa yang belum dijawab atau masalah apa yang masih terbuka. Nah, celah inilah yang jadi pintu masuk penelitian kita.
Langkah pertama agar studi pustaka efektif adalah fokus pada kata kunci yang tepat. Jangan asal cari literatur dengan topik terlalu luas. Misalnya, kalau penelitianmu tentang literasi digital siswa SMA, jangan hanya pakai kata kunci “literasi digital.” Tambahkan konteks, misalnya “literasi digital remaja,” “digital literacy high school,” atau “penggunaan media sosial siswa.” Dengan kata kunci yang spesifik, hasil pencarian akan lebih relevan.
Langkah kedua, gunakan database ilmiah yang kredibel. Google Scholar memang praktis, tapi jangan berhenti di situ. Coba gunakan Scopus, Web of Science, atau portal jurnal nasional. Banyak kampus juga menyediakan akses ke database berbayar. Dengan sumber yang terpercaya, studi pustaka kita akan lebih kuat. Hindari hanya mengandalkan blog atau artikel populer yang tidak jelas kredibilitasnya.
Setelah dapat literatur, jangan langsung ditumpuk begitu saja. Lakukan membaca kritis. Artinya, jangan hanya membaca abstrak, tapi pahami betul isi penelitian: apa masalah yang diangkat, metode apa yang dipakai, dan bagaimana hasilnya. Dari situ, buat catatan singkat. Bisa pakai aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero. Dengan begitu, referensi kita rapi, dan saat menulis tidak bingung mencari sumber.
Langkah berikutnya, kelompokkan literatur berdasarkan tema. Misalnya, dalam topik literasi digital, ada artikel yang membahas peran guru, ada yang fokus pada penggunaan media sosial, ada yang menyoroti keterampilan teknis siswa. Dengan mengelompokkan literatur, kita bisa menulis studi pustaka dengan alur yang jelas, bukan sekadar daftar nama peneliti.
Selain itu, jangan lupa untuk membandingkan dan menghubungkan literatur. Jangan hanya menulis, “Peneliti A mengatakan ini, Peneliti B mengatakan itu.” Lebih baik hubungkan: “Peneliti A menemukan X, sementara Peneliti B justru menemukan Y. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh konteks penelitian yang berbeda.” Dengan cara ini, studi pustaka kita jadi lebih analitis, bukan sekadar ringkasan.
Tips lain yang penting adalah jangan menunda menulis. Banyak orang terjebak membaca terlalu banyak sampai lupa menulis. Padahal, studi pustaka tidak harus menunggu semua artikel terbaca. Mulailah menulis sambil membaca, lalu revisi seiring bertambahnya referensi. Cara ini lebih efisien dan mencegah kita tenggelam dalam lautan literatur.
Terakhir, selalu ingat etika. Setiap ide atau kalimat yang diambil dari literatur harus disertai sitasi. Jangan berpikir, “Ah, ini cuma informasi umum, nggak usah disitasi.” Lebih baik sedikit berlebihan mencantumkan sumber daripada terjebak plagiarisme.
Singkatnya, studi pustaka yang efektif butuh fokus, sumber terpercaya, membaca kritis, pengelompokan tema, analisis perbandingan, dan disiplin menulis. Dengan strategi ini, studi pustaka tidak lagi terasa membingungkan, tapi justru jadi bagian paling menarik karena kita bisa melihat peta pengetahuan di bidang yang kita teliti.



